I made this widget at MyFlashFetish.com.

Rabu, 11 April 2012

Action Plan "Micro Teaching"



Kelompok 4
Anggota            :   Dwika Septian Ihsan      (091301013)
                             Rizqi Chairiyah               (101301007)
                             Vivian Felicia                  (101301043)
                             Zukhrini Khalish N         (101301053)
                             Dealovalia Hasibuan       (101301074)
                             Putra Pratama                (101301100)

Tema : Go Green
Topik : Memanfaatkan Barang Bekas
Perencanaan 
     A.      Pendahuluan


          Pada zaman sekarang ini, banyak orang kurang peduli terhadap lingkungannya. Mereka terbiasa membuang barang sekali pakai, contohnya setelah mengkonsumsi makanan ringan, kemasan pembungkusnya langsung dibuang begitu saja. Bila terus dibiarkan hal ini akan menjadi pencemaran lingkungan yang berdampak negatif terhadap diri mereka. Limbah dari bahan plastik merupakan limbah yang paling berbahaya, karena sulit dihancurkan dalam waktu singkat, jika ditanam akan sulit melebur, sedangkan jika  dibakar akan menghasilkan senyawa karbon monoksida, serta partikel dioksin dan klorin yang sangat berbahaya. Selain plastik, banyak juga limbah yang mencemari lingkungan dan sulit diuraikan oleh bakteri, seperti kertas, kaleng bekas, logam, stearofoam dan sebagainya.
            Mengingat banyaknya barang bekas yang sudah tidak terpakai dan hanya menjadi sampah, membuat kami tertarik untuk membahas topik ini. Selain mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan barang yang berguna serta bernilai seni dan ekonomi. Memanfaatkan barang bekas, bukan hanya tugas orang dewasa, tetapi juga harus mulai diajarkan sejak dini. Anak – anak perlu memahami pentingnya menjaga lingkungan.
          Dari latar belakang tersebut, kami merasa pelu membantu adik – adik usia dini untuk sama – sam`a menjaga lingkungan. Kegiatan  Micro Teaching  yang bertemakan “Go Green” dengan berfokus kepada pemanfaatan barang bekas yang akan dilaksanakan di Taman Kanak – Kanak Dharma Pancasila, Medan, diharapkan mampu memberikan pengajaran kepada anak usia dini tentang pentingnya menjaga lingkungan. 
    
       B.  Landasan Teori
                Banyak orang yang mengatakan mengajar adalah ilmu, dimana kegiatan mengajar harus bebasis dan dipandu oleh ilmu. Konsep ini menekankan pada aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Konsep ini percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi secara kebetulan.
                Banyak orang juga percaya mengajar adalah seni. Konsep ini memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat diformalkan, namun jika dipaksakan, akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Penganut konsep ini berpendapat bahwa mengajar sebenarnya merupakan intuisi, improvisasi, dan ekspesi.
                Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga di dalam kelas. Dalam kegiatan mengajar, tidak ada resep gagal-aman secara rutinitas. Aktivitas yang paling penting dari kegiatan mengajar adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran itu.
                Intinya, setiap guru harus siap menerima semua perilaku anak-anak dalam kelas, karena anak-anak pada umumnya berperilaku secara spontan.
  
        C.      Alat dan Bahan
Dalam melakukan kegiatan prakarya ini, peralatan dan bahan-bahan yang akan kelompok kami gunakan adalah sebagai berikut:
       Gunting
       Lem
       Pensil
       Botol bekas air mineral
       Kertas kalender bekas
      Kertas koran bekas
      Kamera digital
      Beberapa hadiah (reward)

Nb: semua barang bekas telah dibersihkan
  
        D.      Peserta
            Peserta dalam kegiatan prakarya yang kami selenggarakan ini adalah siswa-siswi TK Dhama Pancasila, yang berjumlah sebanyak 15 orang. 

       E.       Proses Kegiatan
                Pada hari kamis tanggal 19 april 2012 kami akan melaksanakan kegiatan prakarya di TK Dharma Pancasila. Kegiatan akan dimulai pada pukul 09.00 WIB didalam kelas. Diawali dengan perkenalan dan pembagian kelompok yang terdiri dari 3 orang anggota pada setiap kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian instruksi tentang cara pengerjaan prakarya. Setelah itu anak-anak TK mulai mengerjakan prakarya dengan dibantu oleh satu orang pengajar disetiap kelompok. Setelah kegiatan mengerjakan prakarya selesai, akan dilanjutkan dengan games. Kegiatan terakhir yang akan kami laksanakan adalah pemberian reward kepada kelompok terbaik.


  F.       Jadwal Kegiatan                                                                                        
·         Diskusi perencanaan dan konsep Micro Teaching                       Sabtu, 07 April 2012
·         Observasi lokasi Micro Teaching (TK Dharma Pancasila)           Senin, 09 April 2012
·         Diskusi proses pelaksanaan Micro Teaching                               Senin, 09 April 2012
·         Posting perencanaan kegiatan (action plan)                                 Selasa,10 April 2012
·         Pengajuan surat permohonan ke TK Dharma Pancasila               Rabu,  11 April 2012
·         Micro Teaching                                                                          Kamis, 19 April 2012
·         Edit video                                                                                  Kamis, 19 April 2012
·         Posting hasil pelaksanaan Micro Teaching                                   Sabtu, 21 April 2012

       G.     Kalkulasi Dana
Reward                                                                                                           Rp  100.000

Sabtu, 07 April 2012

Pedagogi Praktis Abad Ke – 21


paedagogi sudah berlangsung sejak saat lama sama seperti peradaban pendidikan dan pembelajaran. Meski paedagogi nyaris tidak berubah, kajian atasnya terasa terus kontekstual sesui dengan perjalanan sejarah peradabban pendidikan. Pada saat memasuki abad ke – 21, banyak orangyang tertarik untuk membahas tntang paedagogi, sampai di beri julukan Paedagogi Abad ke – 21 yang juga dikenal dengan Paedagogi Progresif.
 Paedagogi tidak hanya sekedar membahas mengenai seni dan ilmu mengajar, tetapi juga mendorong untuk melakukan redesain dan pemahaman ulang atas bagaimana menggunakannya untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman.
Paedagogi formal bermakna paedagogi teoritis atau ilmiah, sedangkan paedagogi vernakular merupakan paedagogi praktis. Paedagogi formal atau ilmiah merupakan upaya mengembangkan prinsip – prinsip dan teori – teori paedagogi yang efektif melalui penelitian yang sistematis, lebih abstrak dan lebih umum dari paedagogi vernakuler atau praktis.  Paedagogi formal didukung oleh pengalaman dasar yang kuat, istimewa, dan dibangun atas fondasi kajian empirik selama proses  mengajar dan belajar ( Moore,2000).
Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian paedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran, bersifat nonlinear. Kedua, untuk memungkinkan atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan apabila perlu memodifikasi paeddagogi. Tujuan pertama melahirkan paedagogi teoritis dan tujuan kedua melahirkan paedagogi praktis. 


Danim, Prof. Dr. Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Paedagogi Teoritis dan Prinsip – Prinsip Paedagogis


1. Pedagogi dan Pedagogis
Paedagogi tidak hanya berkutat pada ilmu dan seni mengajar, melainkan ada hubungannya dengan pembentukan generasi baru, yaitu pengaruh pendidikan sebagai sistem yang bermuara pada pengembangan individu atau peserta didik. Kata sifat untuk paedagogi adalah paedagogis. Menurut Danilov, paedagogis adalah proses inetraksi terus menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa. Asimilasi pengetauan oleh siswa berkaitan dengan antusiasme mereka untuk mengetahui diverifikasi dalam proses kerja yang intensif dan aktif. Sementara menurut Alberto Gracia et al, menkonseptualisasikan paedagogis sebagai tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah, dimana interaksi itu dilakukan berdasarkan teori paedagogis tertentu,berorientasi pada tujuan institusional, dan dikembangkan dalam interaksi yang dekat dengan keluarga dan masyarakat untuk mencapai pembentukan siswa secara sehat.
2. Prinsip – prinsip Proses Paedagogis
Menurut Addine, diantara prinsip – prinsip paedagogis itu adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis. Karakter ilmiah dan ideologis ini menyoroti bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju dibidang sains kontemporer dan dalam korespondensi total dengan ideologi kita. Selain itu, prinsip hubungan sekolah dan kehidupan didasarkan pada dua aspek penting : kaitan antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang mendidik manusia.
Prinsip lain adalah salah satu yang mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya adalah merujuk pada kesatuan pengajaran, pendidikan dam perkembangan proses, karena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya. Proses paedagogis juga mencakup prinsip bahwa domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering. Prinsip terakhir dari proses paedagogis adalah, bahwa masing – masing subsistem aktivitas, komunikasi,dan kepribadian saling terkait satu sama lain. 


Danim. 2010. Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta 

Minggu, 01 April 2012

Paedagogi Praktis Abad ke-21 (meninjau guru di masa lampau dan saat ini)

Anggota Kelompok :
Dea Lovalia (10-074)
Fitri Dian Adlina (10-091)

Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian pedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran, yang akan melahirkan pedagogi teoritis. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan,membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi pedagogi, yang akan melahirkan pedagogi praktis. Pedagogik praktis menempatkan dirinya dalam situasi pendidikan dan tertuju pada pelaksanaan realisasi dari cita (ideal) yang tersusun dalam ilmu mendidik teoritis. Sehingga pedagogi praktis lebih berfokus tidak hanya pada ilmu mendidik secara teoritis, namun mempelajari bagaimana agar ilmu yang dipelajari tersebut dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran.

Terdapat beberapa perbedaan antara guru zaman dahulu dan zaman sekarang menurut tinjauan kami, antara lain :
  • Cara mengajar yang diterapkan oleh guru zaman dulu umumnya adalah dengan menggunakan penjelasan yang kaku, hanya membaca seperti yang tertera di dalam buku saja. Sehingga, pengetahuan yang diterima siswa hanya bersumber dari sang guru itu saja. Sedangkan guru zaman sekarang lebih sering menjelaskan secara singkat materinya, lalu mempersilahkan para siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan. Sebelumnya, siswa dituntut untuk mempelajari terlebih dahulu materi yang akan dipelajari. Agar proses belajar yang terjadi di dalam kelas mendapatkan komunikasi dua arah. Dengan cara ini, siswa jadi terpacu untuk mengembangkan pengetahuannya, tidak hanya sebatas di sekolah. Mereka dapat mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka terhadap materi belajar dengan browsing di internet, berdiskusi ,  kursus, mengikuti seminar atau pelatihan , dan lain sebagainya. Pengetahuan yang didapat pun akan semakin banyak.
  • Kemudian, bagaimana penyampaian guru dalam memberikan nasehat kepada siswanya juga berbeda. Guru zaman dahulu biasanya sering menggunakan kalimat- kalimat yang kasar dalam mengoreksi siswanya. Ketika siswanya tidak mengerjakan tugas, atau telat masuk, dan mengganggu suasana belajar, sang guru aan menyinggung siswa tersebut berdasarkan penampilan dan latar belakang keluarganya. Bahkan tidak jarang menghukum mereka dengan tindakan yang sangat tidak terpuji. Hal ini akan membuat para siswa merasa dipermalukan di dalam kelas oleh gurunya. Sehingga yang muncul di benak mereka bukan tentang bagaimana memperbaiki diri, namun akan mengurangi respek mereka terhadap guru dan kemungkinan akan timbul rasa benci di hati mereka. Sehingga kemauan untuk belajar dengan guru tersebut pun akan hilang. Inilah yang menyebabkan siswa sering bolos di pelajaran-pelajaran tertentu , dengan guru-guru tertentu. Sedangkan perlakuan yang dilakukan guru zaman sekarang biasanya menasihati murid hanya dengan nasihat-nasihat yang halus dan tidak sampai menyinggung perasaan murid tersebut. Mendewasakan mereka secara berpikir dan bertindak, berangkat dari kesadaran diri mereka sendiri. Guru membiarkan mereka aktif dan  mandiri, serta memiliki tanggungjawab yang kuat terhadap apa yang mereka lakukan.
  • Guru zaman dahulu apabila di luar kelas, mereka akan membatasi untuk berinteraksi dengan siswanya. Sedangkan guru zaman sekarang lebih luwes dalam berinteraksi diluar kelas. Seakan akan tidak ada gap antara murid dan guru. Bahkan guru zaman sekarang dengan sangat terbuka menawarkan waktu untuk berdiskusi di luar kelas, apabila mereka sedang tidak ada urusan lain. Sehingga guru pun dapat dijadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hati siswa tentang sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
  • Dulu, seorang guru hanya dengan menggunakan alat tulis berupa kapur dan papan tulis, ataupun spidol dalam menjelaskan materi.  Namun untuk guru zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi yang berkembang, mereka dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dalam proses belajar. Contohnya, Guru zaman sekarang lebih suka menuliskan materi ajarnya di file presentasi yang nanti hasilnya bisa ditampilkan di layar menggunakan LCD proyektor. Disamping lebih praktis, cara ini bisa membantu para siswa untuk mengetahui lebih detail suatu gambar, objek, atau benda. 
Daftar Pustaka : 
Danim, Prof. Dr. Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Senin, 19 Maret 2012

Testimoni kuliah online pertama Paedagogi

waahhh...
pada saat saya sampai dikampus saya melihat kelas masih kosong tidak seperti biasanya.....
setelah sekitar 10 menit saya menunggu ternyata liliyana sari datang dan memberitahukan pada saya kalau hari ini perkuliahan diadakan secara online...
sebelumnya saya sudah mendapat kabar bahwa perkuliahan diadakan secara online, tapi saya pikir tu tidak benar sehingga saya tetap datang kekampus.
ya tapi ada untungnya juga sih saya datang kekampus, selain bisa wifi-an secara gratis untuk melakukan perkuliahan online, saya juga bisa merasakan gimana rasanya panik pada saat proses absensi sudah dimulai sementara saya dan beberapa teman yang datang kekampus masih menunggu wifi yang belum juga aktif. sehingga kami semua panik dan sibuk sendiri mencari - cari wifi mana yang sudah bisa dipakai untuk online. akhirnya wifi pun akktif dan kami langsung mencoba bergabung dengan teman - teman yang sudah terlebih dahulu bergabung didalam perkuliahan online bersama dengan dosen pengampu yang terlebih dahulu sudah online.  setelah selesai absensi saya pun mencoba membuka suatu situs yang telah diposting oleh bu Dina didalam group MK.Paedagogi.
http://www.e-dukasi.net/index.php  
adalah suatu situs yang menurut saya sangat bermanfaat dalam proses belajar mengajar. karena pada situs ini bukan hanya tersedia ilmu - ilmu pengetahuan yang baru dan yang berkembang pada saat ini , tetapi juga merupakan situs yang sangat menarik yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu materi yang disampaikan dalam proses belajar - mengajar disekolah mereka. memberikan pengetahuan yang lebih luas terkait materi yang ada dikelas mereka juga bisa mengetahui lebih dalam lagi tentang materi tersebut. 
tapi sayangnya, fasilitas ini hanya dapat dinikmati dan dimanfaatin oleh siswa - siswa yang dapat mengakses internet secara mudah, sementara bagi siswa - siswa yang  untuk mendapatkan kehidupan yang layak aja masih susah gimana mau mendapatkan fasilitas seperti ini. untuk itu bagi kita yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas ini seharusnya dapat memanfaatkannya dengan maksimal sehingga kita bisa berbagi manfaat dengan siswa - siswa yang kurang beruntung tersebut.  sehingga pendidikan di indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. 

Sabtu, 10 Maret 2012

Seni dan Ilmu Mengajar

  Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Seni mengajar hanya terlihat ketika interaksi pembelajaran berlangsung. Pembelajaran adalah seni kerjasama yang membantu alam melakukan apa yang dapat dilakukannya sendiri, meski tidak mungkin selalu baik hanya dengan itu.  Menurut saya pengertian tersebut bisa didapat dari proses belajar pada saat mengikuti mata kuliah Paedagogi pada tanggal 27 Februari 2012 kemarin, dimana saya mendapatkan sesuatu yang baru. Lebih tepatnya mendapat pengalaman yang baru dalam hal belajar, yaitu dengan metode E-learning dan Trial and Error. Terutama pada saat mencoba belajar di Editgrid.com.
  Badan Nasional Standar Profesional Pengajaran di Amerika Serikat telah membuat rumusan yang baik tentang pengajaran, dimana guru memfasilitasi peluang belajar siswa tidak hanya sekedar menempatkan orang - orang muda dilingkungan edukatif, melainkan juga harus memotivasi mereka, menangkap pikiran dan hati mereka, serta melibatkan mereka aktif dalam belajar. Guru mendorong dan membangkitkan gairah baru siswa untuk membangun jembatan antara apa yang mereka ketahui dan dapat lakukan, serta bagaimana mereka mampu menjadi pembelajar yang kontinyu. Hal ini seperti apa yang dilakukan oleh Bu Dina pada saat proses kuliah Paedagogi kemarin. Dimana Bu Dina mengenalkan dan mengejarkan tentang editgrid dan selanjutnya secara bersama - sama kami melakukan dan mencari tahu bagaimana selanjutnya proses penggunaan editgrid tersebut secara trial and error. Bu Dina memberikan sesuatu yang dapat membuat  saya lebih gampang untuk mengingat pada proses belajar tersebut. hal itu karena proses belajar trial and error tersebut, karena saya dengan sangat mudah akan mengingat sesuatu yang telah saya coba sendiri sehingga menemukan jawaban dan solusi dari hal tersebut.
  Akhirnya menurut saya kesimpulannya adalah proses Seni dan Ilmu Mengajar sebagai topik dipertemuan pertama mata kuliah Paedagogi ini telah banyak dipraktikkan oleh dosen pengampunya yaitu Bu Dina, yang telah mengajarkan bahwa proses belajar itu tidak harus selalu monoton dengan selalu membaca buku yang tebal - tebal, ngerjain makalah dan juga persentasi tetapi dengan cara belajar trial and error yang telah diberlakukan oleh Bu Dina lebih banyak membantu mahasiswa dalam proses belajar. dan juga memberikan variasi dan juga rasa ketertarikan yang berbeda dari mata kuliah yang lainnya.



Daftar Pustaka :
Danim, Prof. Dr. Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Penerbit Alfabeta.